MAROS, NEWS  

Karst Festival Heritage II di Maros: Merawat Jejak Leluhur, Menjaga Karst untuk Masa Depan

banner 120x600

MAROS, liputan47.com  — Suasana berbeda terasa di Dusun Lopi-Lopi, Desa Mangeloreng, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Selama tiga hari, 18–20 September 2026, kawasan tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat, peneliti, pelaku budaya, mahasiswa, pemerintah, komunitas, hingga pegiat lingkungan melalui Karst Festival Heritage II (KHF II).

Mengusung tema “Hand and Foot Print”, festival ini mengajak masyarakat melihat kembali hubungan panjang antara manusia dan bentang alam karst. Jejak tangan dan kaki manusia prasejarah yang masih tersimpan di dinding-dinding gua menjadi simbol perjalanan panjang kehidupan manusia di kawasan tersebut.

Namun, KHF II tidak hanya berbicara tentang jejak masa lalu. Festival ini juga mengangkat “jejak” manusia masa kini—bagaimana masyarakat menjaga alam, merawat pengetahuan lokal, mempertahankan tradisi, serta mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

KHF II menjadi ruang konsolidasi sekaligus sarana berbagi pengetahuan mengenai pentingnya kawasan Karst Maros-Pangkep yang memiliki nilai geologi, arkeologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan.

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Iswadi Makaraka, mengatakan penyelenggaraan KHF II merupakan bagian dari proses panjang yang mendapat dukungan melalui Dana Indonesiana–LPDP Kementerian Kebudayaan.

Menurutnya, kegiatan seperti KHF penting agar pengetahuan mengenai warisan budaya tidak hanya berkembang di ruang akademik dan institusi, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tersebut.

“Yang penting dari proses ini adalah bagaimana pelestarian kebudayaan dapat tumbuh bersama masyarakat, karena masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan dan warisan budaya itu sendiri,” ujar Iswadi.

Festival yang Mendekatkan Geopark kepada Masyarakat

General Manager UNESCO Global Geopark Maros Pangkep, Dedi Irfan, turut mengapresiasi pelaksanaan KHF II.

Menurut Dedi, festival menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan nilai-nilai geopark kepada masyarakat melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mulai dari diskusi, aktivitas lingkungan, seni, permainan tradisional hingga keterlibatan langsung warga menjadi bagian dari proses penyebarluasan informasi mengenai kawasan karst.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini sebagai sebuah model pendekatan berbasis masyarakat yang efektif untuk penyebarluasan informasi. Pada saat yang sama, kegiatan seperti ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros Pangkep,” kata Dedi.

Warga Bukan Sekadar Penonton

Salah satu kekuatan KHF II adalah keterlibatan masyarakat Desa Mangeloreng. Warga tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi bagian penting dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Masyarakat terlibat dalam persiapan, penyediaan ruang kegiatan, kuliner tradisional, pertunjukan budaya hingga aksi-aksi lingkungan.

Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maros, Yusriadi Arif, yang hadir sekaligus membuka kegiatan, mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat dan panitia.

“KHF II bisa berjalan karena ada semangat untuk bahu-membahu dan keterlibatan banyak pihak,” ungkap Yusriadi.

Kepala Desa Mangeloreng, Muhammad Darwis, berharap semangat yang lahir dari festival tidak berhenti ketika panggung festival dibongkar.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjadi bagian dari upaya masyarakat bersama pemerintah desa dalam menjaga potensi alam dan budaya Mangeloreng.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun di desa, sehingga manfaatnya semakin luas dan masyarakat semakin terlibat dalam menjaga potensi alam, budaya, dan warisan yang ada di Mangeloreng,” ujar Muhammad Darwis.

Direktur Bumi Toala Indonesia, Basran Burhan, juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Mangeloreng yang sejak awal membuka ruang bagi terselenggaranya berbagai kegiatan festival.

“Terutama kepada warga desa yang sejak awal membuka pintu bagi panitia, menerima berbagai kegiatan, dan menjadikan kampung ini sebagai ruang bersama untuk belajar tentang karst dan kebudayaan,” ujar Basran.

Direktur Festival, Wa Ode Nur Ilmi Fauziah, menjelaskan bahwa KHF II bukanlah kegiatan yang dibangun secara instan.

Festival tersebut merupakan hasil dari proses panjang melalui berbagai workshop, pertemuan dan dialog bersama masyarakat serta para pihak.

“Jadi festival ini sebenarnya merupakan hasil dari proses belajar dan bekerja bersama yang sudah berjalan sejak tahap pra-event,” jelas Wa Ode Ilmi.

Dari Sungai, Gua Prasejarah hingga Panggung Kampung

Rangkaian KHF II berlangsung dengan beragam kegiatan yang menghubungkan lingkungan, ilmu pengetahuan, budaya dan kehidupan masyarakat.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan donor darah bersama PMI Kabupaten Maros, pemeriksaan kesehatan gratis, perpustakaan keliling serta aksi bersih sungai yang melibatkan warga dan peserta festival.

Mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin juga menghadirkan kuliah lapangan. Sejumlah diskusi membahas pengelolaan sampah, gerakan menuju nir-sampah, ekosistem karst, peran pemuda dalam transmisi budaya hingga karst sebagai ruang kehidupan bersama.

Malam pembukaan kemudian diisi dengan berbagai pertunjukan seni dan tradisi, seperti Angngaru dan Tari Paduppa.

Pada hari kedua, peserta diajak menjelajahi sejumlah situs prasejarah di sekitar Desa Mangeloreng. Diskusi publik digelar di ruang yang berdekatan dengan situs, membahas karst sebagai living heritage, hasil penelitian, advokasi lingkungan, seni cadas purba hingga artefak arkeologi.

Peserta juga mengikuti workshop eksperimental pembuatan alat batu, permainan tradisional serta malam kebudayaan yang menampilkan Ganrang Bulo, Tari Mappadendang, Sinrilik dan teater kampung.

Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting festival. Tim nir-sampah melakukan pemilahan dan pencatatan sampah selama kegiatan berlangsung, sekaligus menunjukkan bahwa sebuah festival dapat menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab ekologis.

Memasuki hari ketiga, pembahasan semakin luas. Peran perempuan dalam kehidupan masyarakat karst, ketahanan pangan, pelestarian spesies endemik, etnobotani, tanaman obat, sastra dan krisis ekologis hingga peluang ekowisata berbasis komunitas menjadi bagian dari agenda.

Ibu-ibu Desa Mangeloreng turut memperkenalkan kuliner tradisional Anggaru’ Dodoro. Pengunjung juga mengikuti workshop gambar cadas menggunakan pewarna alami, eksplorasi ecoprint hingga permainan tradisional.

Bukan Sekadar Festival

KHF II pada akhirnya tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan atau perhelatan budaya selama tiga hari.

Festival ini menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu, masa kini dan masa depan dalam satu lanskap karst.

Jejak tangan manusia prasejarah di dinding gua menjadi pengingat bahwa manusia telah lama hidup berdampingan dengan kawasan ini. Sementara itu, keterlibatan masyarakat hari ini menjadi “jejak” baru yang menentukan apakah pengetahuan, budaya dan lingkungan tersebut dapat terus diwariskan.

Rangkaian festival ditutup dengan pertunjukan seni dan berbagai ekspresi kebudayaan sebagai penegasan bahwa pelestarian Karst Maros-Pangkep bukan semata-mata tentang batuan, gua dan peninggalan masa lalu.

Lebih dari itu, pelestarian karst adalah tentang manusia yang hidup di dalamnya, masyarakat yang menjaga, budaya yang terus tumbuh, serta pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tim Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *