MAROS – Bantimurung, liputan47.com — Proyek revitalisasi Lapangan Gollae kembali menjadi sorotan masyarakat. Hampir enam bulan pekerjaan berlangsung, lapangan yang sebelumnya aktif digunakan warga untuk berbagai kegiatan olahraga, khususnya latihan sepak bola, hingga kini disebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi permukaan lapangan masih berupa timbunan tanah merah yang bercampur bebatuan. Sejumlah bagian terlihat belum rata, sementara ketebalan timbunan disebut berada di kisaran 30 hingga 50 sentimeter pada beberapa titik. Di bagian pinggir lapangan juga terlihat masih terdapat area yang belum tertimbun.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kualitas material yang digunakan serta kesesuaiannya dengan perencanaan teknis pekerjaan.
Warga yang ditemui di lokasi mengaku kondisi lapangan saat ini justru lebih sulit digunakan dibandingkan sebelum dilakukan revitalisasi.
“Dulu pak, waktu belum dikerjakan bisa dipakai. Sekarang sudah ditimbun pakai tanah merah, banyakmi batunya. Ndak pernahmi dipakai latihan bola,” ujar seorang warga.
Sebelum direvitalisasi, Lapangan Gollae diketahui menjadi salah satu fasilitas yang digunakan masyarakat untuk aktivitas olahraga, terutama latihan sepak bola. Di kawasan tersebut juga terdapat bangunan tribun tertutup yang menjadi bagian dari fasilitas lapangan.
Anggaran Proyek Jadi Sorotan
Selain kondisi fisik lapangan, informasi mengenai sumber dan besaran anggaran revitalisasi juga menjadi perhatian.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari data pengadaan, kegiatan revitalisasi tersebut tercantum bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026, dengan nilai sekitar Rp2 miliar, melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga.
Namun, terdapat pula informasi lain yang menyebut penanganan atau pembangunan Lapangan Gollae berkaitan dengan bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan senilai sekitar Rp2,5 miliar, yang disebut diserahkan langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan.
Perbedaan informasi mengenai sumber dan nilai anggaran tersebut dinilai perlu diperjelas kepada publik agar masyarakat memperoleh informasi yang transparan mengenai proyek yang menggunakan anggaran pemerintah tersebut.
REPRO Maros Minta Pekerjaan Diperiksa
Ketua Tim Pemenangan REPRO Maros, Asmarianto, S.H., turut menyoroti kondisi lapangan tersebut. Ia menduga pekerjaan revitalisasi tidak dikerjakan sebagaimana mestinya dan meminta adanya pemeriksaan terhadap pelaksanaan proyek.
Menurutnya, kondisi lapangan sebelum direvitalisasi masih dapat dimanfaatkan masyarakat. Namun setelah pekerjaan berlangsung, lapangan justru dinilai belum dapat digunakan karena permukaannya tidak rata, banyak bebatuan, serta menimbulkan debu.
“Dulu sebelum direvitalisasi masih dimanfaatkan masyarakat untuk latihan. Sekarang justru tidak bisa digunakan karena banyak batu, permukaannya tidak rata dan berdebu,” kata Asmarianto.
Ia juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) menindaklanjuti temuan dan informasi yang berkembang terkait proyek tersebut, termasuk memastikan apakah pelaksanaan pekerjaan, penggunaan material, volume timbunan, serta kualitas pekerjaan telah sesuai dengan perencanaan dan ketentuan yang berlaku.
Publik Tunggu Kejelasan
Masyarakat berharap proyek revitalisasi Lapangan Gollae benar-benar menghasilkan fasilitas olahraga yang aman, layak, dan dapat kembali digunakan.
Dengan adanya sorotan terhadap kondisi fisik lapangan serta perbedaan informasi mengenai anggaran, masyarakat meminta pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka, termasuk mengenai spesifikasi teknis, volume pekerjaan, sumber anggaran, progres pekerjaan, dan target penyelesaian proyek.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana maupun instansi terkait belum memberikan penjelasan mengenai kondisi material timbunan dan kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis pekerjaan.
Publik pun menunggu klarifikasi agar seluruh informasi mengenai revitalisasi Lapangan Gollae dapat diketahui secara terang dan tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Tim Jurnalis














