MAROS, liputan47.com — Ironi penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kembali mencuat di Kabupaten Maros. Saat sejumlah kelompok tani mengaku telah berulang kali mengajukan proposal namun belum mendapatkan bantuan, puluhan unit alsintan yang disebut sebagai bantuan pemerintah justru masih tersimpan di Gudang Tani Makmur.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius: mengapa bantuan yang telah berada di Maros selama berbulan-bulan belum seluruhnya sampai kepada petani yang membutuhkan?
Berdasarkan data yang disampaikan petugas Gudang Tani Makmur saat ditemui pada Jumat (18/9/2026), sejumlah besar alsintan yang masuk sepanjang 2026 masih tercatat belum disalurkan.
Kepala Gudang Tani Makmur, Akbar, mengatakan bantuan alsintan diterima secara bertahap mulai April 2026. Barang yang masuk kemudian disimpan di gudang sembari menunggu dokumen atau rekomendasi dari dinas terkait untuk proses pengeluaran.
“Yang jelasnya kita cuma terima barang dan kasih keluar barang,” ujar Akbar.
Puluhan Unit Masih Tersimpan
Data gudang menunjukkan masih terdapat sejumlah alsintan yang belum disalurkan.
Untuk traktor roda empat merek Arbos, misalnya, dari 80 unit yang tercatat masuk, baru 57 unit yang telah disalurkan. Artinya, masih terdapat 23 unit yang belum keluar.
Traktor roda empat merek Ishoku sebanyak 50 unit baru 22 unit yang disalurkan, sehingga 28 unit masih tercatat berada di gudang.
Sementara traktor roda dua merek Kubota sebanyak 80 unit, baru 30 unit yang telah disalurkan. Dengan demikian, 50 unit masih belum keluar.
Kondisi lebih mencolok terlihat pada bantuan pompa air dan hansprayer.
Dari 50 unit pompa air Ishoku, baru dua unit yang disalurkan. Sedangkan 50 unit hansprayer Tasco disebut belum satu pun dikeluarkan dari gudang.
Pada jenis combine harvester, data juga menunjukkan masih terdapat unit yang belum tersalurkan.
Sebanyak 20 unit mobil combine Maxi Bimo, 19 unit di antaranya telah disalurkan. Namun, 10 unit combine Tanikaya disebut belum ada yang keluar.
Kemudian, dari 13 unit combine Inara, baru lima unit yang telah disalurkan. Sementara 7 unit combine Gatra juga disebut masih berada di gudang.
Untuk pompa air 2 inci Artugo, dari 250 unit yang tercatat, sebanyak 231 unit telah disalurkan. Sedangkan untuk drone Enersky, dari lima unit baru satu unit yang keluar.
Terdapat pula satu unit combine Ishoku yang tercatat dalam data gudang.
Bantuan tersebut disebut berasal dari pemerintah, termasuk yang bersumber dari APBN, dan diterima secara bertahap mulai April, Juni, Juli hingga September 2026.
Bahkan, menurut petugas gudang, terdapat satu unit alsintan yang baru tiba sehari sebelum wawancara dan belum masuk dalam administrasi gudang.
Petani Kecewa: Proposal Berkali-kali, Bantuan Tak Kunjung Datang
Di tengah kondisi tersebut, kelompok tani mempertanyakan mekanisme penyaluran bantuan.
Ketua Gapoktan Pettuadae, Hadi, mengaku kecewa. Ia mengatakan kelompoknya telah beberapa kali memasukkan proposal bantuan alsintan, namun hingga kini belum mendapatkan realisasi.
“Kita sudah kasi masuk proposal beberapa kali, tapi tidak pernah ada realisasi,” kata Hadi.
Menurutnya, kondisi tersebut terasa ironis. Di satu sisi, petani masih menunggu bantuan, sementara sejumlah alsintan justru terlihat tersimpan di wilayah mereka.
Hadi juga menyampaikan adanya persepsi di tengah masyarakat mengenai kemungkinan adanya biaya tertentu untuk mendapatkan bantuan. Namun, pernyataan tersebut masih berupa dugaan dan memerlukan pembuktian serta klarifikasi dari pihak terkait.
“Kami yang tinggal di daerah perkotaan hanya bisa melihat alsintan parkir di wilayah kami. Diduga bisa saja mungkin dapat kalau ada kita bayar,” ujarnya.
Pengawas Soroti Mesin yang Lama Mengendap
Sorotan juga datang dari Ketua Tim Pengawas REPRO Maros, Asmarianto SH.
Ia menyayangkan masih banyaknya alsintan yang belum disalurkan kepada penerima, sementara sejumlah mesin disebut telah tersimpan selama berbulan-bulan.
“Kami saat melakukan pemantauan melihat masih banyak alsintan yang belum disalurkan dan menumpuk di gudang. Di mobil combine tersebut tertulis Maros. Apakah mungkin ini jatah untuk Kabupaten Maros yang belum terbagi?” kata Asmarianto.
Asmarianto juga menyoroti kondisi sejumlah mesin combine yang ditempatkan di bagian belakang gudang. Menurutnya, beberapa bagian mesin mulai menunjukkan tanda-tanda karat.
Ia mempertanyakan alasan bantuan yang telah diterima sejak beberapa bulan lalu belum seluruhnya disalurkan kepada kelompok tani.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup hanya dilihat sebagai masalah administrasi gudang. Sebab, semakin lama alat pertanian dibiarkan tidak digunakan, semakin besar pula pertanyaan mengenai efektivitas pemanfaatan bantuan pemerintah tersebut.
“Kami mempertanyakan mengapa bantuan yang sudah diterima berbulan-bulan belum seluruhnya disalurkan,” ujarnya.
Asmarianto mengatakan pihaknya berencana membawa persoalan tersebut ke tingkat pemerintah pusat.
“Dalam waktu dekat kami akan melaporkan ini ke Pak Mentan,” tegasnya.
Menunggu Jawaban Pemerintah
Persoalan ini kini menyisakan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan penjelasan dari instansi berwenang.
Siapa sebenarnya penerima masing-masing unit alsintan tersebut? Apa dasar penetapan penerimanya? Mengapa sebagian unit sudah berbulan-bulan berada di gudang? Apakah seluruh unit tersebut memang diperuntukkan bagi petani di Maros? Dan kapan seluruh bantuan yang masih tersimpan akan disalurkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Sebab, bantuan alsintan pada dasarnya ditujukan untuk mendukung produktivitas petani. Ketika mesin pertanian sudah tersedia tetapi belum dimanfaatkan, sementara kelompok tani masih menunggu bantuan, efektivitas mekanisme penyalurannya patut dipertanyakan.
Kini publik menunggu penjelasan dari dinas terkait dan pemerintah mengenai status, penerima, dasar penyaluran, serta alasan puluhan unit alsintan tersebut masih tersimpan di Gudang Tani Makmur.
Petani menunggu alatnya. Mesin sudah ada. Lalu, apa yang membuatnya belum sampai ke tangan penerima?
Tim Jurnalis














