MAROS, liputan47.com — Pabrik benih jagung yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp34 miliar dari APBD Sulawesi Selatan tahun 2021 di Dusun Batu Lotong, Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, kini menjadi sorotan.
Pasalnya, fasilitas yang sejak awal digadang-gadang menjadi salah satu penopang kebutuhan benih jagung Sulawesi Selatan tersebut, saat ditinjau pada 17 September 2026, terlihat minim aktivitas produksi.
Tim Investigasi REPRO Maros bersama awak media yang mendatangi lokasi tidak melihat aktivitas produksi yang signifikan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai sejauh mana fasilitas bernilai puluhan miliar rupiah itu saat ini dimanfaatkan.
Padahal, pembangunan pabrik tersebut sebelumnya ditargetkan mampu memenuhi sekitar 15 persen kebutuhan benih jagung Sulsel, dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 6.000 hingga 7.000 ton per tahun.
Kontrak Swasta Berakhir, Pengelolaan Baru Masih Berproses
Saat dikonfirmasi, Penanggung Jawab Lokasi, Fatah, membenarkan bahwa fasilitas tersebut sebelumnya dikelola pihak swasta melalui sistem kontrak selama empat tahun sejak 2021.
Namun, masa kontrak tersebut telah berakhir pada April 2025.
Menurut Fatah, hingga kini pemerintah masih melakukan proses untuk menentukan pola pengelolaan selanjutnya, termasuk tahapan administrasi dan negosiasi dengan pihak yang akan mengelola fasilitas tersebut.
“Sekarang ini tinggal proses negosiasi bagaimana kontraknya lagi, karena berkasnya sudah berjalan,” kata Fatah.
Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu mendapat penjelasan lebih terbuka dari pemerintah, mengingat fasilitas tersebut dibangun menggunakan anggaran daerah dalam jumlah besar dan sejak awal memiliki target produksi yang cukup signifikan.
Listrik Terputus, Ada Persoalan Tunggakan
Persoalan lain yang turut mencuat adalah kondisi pasokan listrik di lokasi pabrik.
Fatah menyebut, listrik di fasilitas tersebut terputus akibat adanya tunggakan yang disebut terjadi pada masa pengelolaan sebelumnya.
Ia menjelaskan, pembayaran listrik selama masa kontrak merupakan tanggung jawab pihak pengelola. Namun, Fatah mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa nilai tunggakan listrik maupun detail kontrak sebelumnya.
Keterangan tersebut tentu membuka ruang pertanyaan lebih lanjut: berapa nilai tunggakan listrik, siapa yang bertanggung jawab menyelesaikannya, serta bagaimana mekanisme pengawasan pemerintah terhadap aset dan operasional pabrik selama masa kontrak?
Rp34 Miliar dan Pertanyaan Publik
Pabrik benih jagung tersebut bukan sekadar bangunan biasa. Di balik fasilitas itu terdapat anggaran publik sekitar Rp34 miliar, sehingga pemanfaatan dan keberlanjutannya menjadi bagian penting dari pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat.
Jika fasilitas produksi yang ditargetkan mampu menghasilkan ribuan ton benih jagung per tahun justru minim aktivitas, publik tentu berhak mengetahui penyebabnya.
Apakah persoalannya terletak pada berakhirnya kontrak? Apakah pengelolaan baru belum berjalan? Bagaimana kondisi mesin dan fasilitas produksi? Berapa biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan? Dan sejauh mana target produksi yang pernah dicanangkan benar-benar terealisasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban terbuka dari instansi pemerintah terkait.
Desakan agar dilakukan penelusuran terhadap pengelolaan fasilitas juga mulai muncul. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang dapat menyimpulkan telah terjadi tindak pidana maupun kerugian negara.
Karena itu, yang menjadi sorotan bukan sekadar ada atau tidaknya dugaan pelanggaran, melainkan efektivitas pemanfaatan aset daerah yang dibangun menggunakan uang rakyat.
Publik patut mendapatkan informasi yang jelas mengenai isi dan nilai kontrak sebelumnya, realisasi produksi, kondisi aset dan mesin, nilai tunggakan listrik, status pengelolaan saat ini, serta rencana pemerintah terhadap pabrik tersebut ke depan.
Sebab, setelah anggaran sekitar Rp34 miliar digelontorkan, pertanyaan paling mendasar kini adalah:
Mengapa fasilitas yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi benih jagung Sulawesi Selatan itu justru terlihat minim aktivitas?
Ada apa dengan pabrik benih jagung Rp34 miliar di Maros?
Tim Jurnalis














