MAKASSAR, liputan47.com — Tari Bosara bukan sekadar tarian penyambutan. Lebih dari itu, Bosara merupakan bahasa tubuh masyarakat Makassar yang merepresentasikan penghormatan, kerendahan hati, dan kebersamaan.
Di balik gerakan yang lembut dan sajian kue-kue tradisional khas Bugis-Makassar, tersimpan nilai-nilai adat dan etika yang selama ratusan tahun diwariskan, khususnya melalui peran perempuan dalam kehidupan budaya masyarakat Makassar.
Namun, di tengah derasnya arus budaya pop dan kesibukan akademik, muncul pertanyaan penting: siapa yang akan memastikan Tari Bosara tetap hidup dan tidak sekadar menjadi pajangan budaya?
Salah satu jawabannya adalah melalui kolaborasi antara kampus dan sanggar seni.
Model inilah yang kini dijalankan bersama mahasiswa Sendratasik melalui tim pelaksana yang diketuai Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Prof. Dr. Jamilah, M.Sn. dan Dr. Sri Darmawati, M.Pd., bersama pelatih Ibu Bau Salawati, S.Pd., M.Sn., serta pakar tari tradisi Sulawesi Selatan sekaligus pemilik Sanggar Seni Katangka, Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd.
Kolaborasi tersebut menjadi gambaran bahwa pelestarian seni tradisi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kampus membutuhkan sanggar, sanggar membutuhkan kampus, sementara mahasiswa Sendratasik menjadi jembatan di antara keduanya.
Bosara, Warisan yang Membutuhkan Ruang Hidup
Selama ini istilah “pelestarian budaya” sering kita dengar. Namun, melestarikan budaya bukan berarti membekukannya dalam bentuk dokumentasi atau sekadar menyimpannya dalam arsip.
Tari Bosara akan kehilangan maknanya jika hanya diajarkan melalui slide presentasi, buku, atau video. Bosara harus tetap hidup melalui proses latihan, interaksi, koreksi, dan pengalaman langsung.
Ia hidup ketika ada keringat di lantai latihan, ketika seorang pelatih memberikan teguran lembut karena gerakan tangan mahasiswa belum tepat, serta ketika mahasiswa tertawa karena salah langkah kemudian kembali mencoba.
Dalam Tari Bosara terdapat aturan dan ragam gerak yang harus dipahami serta dilakukan secara tepat. Karena itu, pengalaman langsung menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Di sinilah keberadaan Sanggar Seni Katangka menjadi sangat penting.
Sanggar bukan hanya tempat berlatih. Sanggar merupakan rumah bagi proses pewarisan budaya. Di tempat inilah mahasiswa belajar bahwa menari Bosara bukan hanya persoalan menghafal gerakan, tetapi juga belajar menghormati tamu, menjaga kekompakan, mengendalikan ego, serta membangun kepekaan terhadap keindahan bersama.
Tanpa sanggar, kampus berisiko hanya memiliki teori. Sementara teori tanpa praktik akan kehilangan rasa.
Kampus Memberi Arah, Riset, dan Panggung
Di sisi lain, keberadaan sanggar saja juga belum cukup. Tradisi membutuhkan penguatan akademik agar proses pewarisannya dapat terus berkembang dan terdokumentasi secara ilmiah.
Di sinilah peran tim pelaksana dari lingkungan Sendratasik menjadi penting.
Prof. Dr. Jamilah, M.Sn. berperan dalam memberikan landasan keilmuan sehingga mahasiswa tidak hanya mampu menarikan Bosara, tetapi juga memahami latar belakang sejarah, nilai budaya, serta makna setiap gerakan.
Mahasiswa didorong untuk memahami mengapa Bosara digunakan dalam penyambutan, mengapa arah pandangan mengikuti gerakan tangan, serta bagaimana pola iringan musik mendukung keseluruhan pertunjukan.
Sementara Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd. turut membangun kerangka pembelajaran melalui penyusunan RPS, perancangan asesmen, serta upaya menjadikan Tari Bosara sebagai bagian dari pembelajaran praktik.
Dengan demikian, Bosara tidak ditempatkan hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tetapi dapat menjadi bagian dari proses akademik yang terstruktur.
Kolaborasi pertunjukan, seminar, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk tampil dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Sebab, sebuah tarian membutuhkan ruang pertunjukan dan penonton agar tetap memiliki kehidupan.
Dalam konteks ini, kampus memberikan legitimasi akademik dan membuka jalan agar Bosara tidak hanya dikenal sebagai warisan komunitas, tetapi juga menjadi bagian dari kajian ilmiah dan pendidikan seni.
Pelatih dan Pewaris Gerak
Di antara kampus dan sanggar, terdapat dua sosok penting yang menjadi jantung dari proses pembelajaran, yakni Ibu Bau Salawati, S.Pd., M.Sn. sebagai pelatih dan Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd. sebagai sosok yang memiliki pengalaman panjang dalam seni tari tradisi Sulawesi Selatan.
Ibu Bau Salawati tidak hanya mengajarkan hitungan gerak dari satu sampai delapan. Lebih dari itu, ia mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan penghayatan.
Gerakan tangan yang terlihat sederhana membutuhkan kelembutan dan penghayatan. Setiap gerakan harus memiliki rasa dan tidak dilakukan secara kaku.
Sementara Ibu Hj. St. Maryam merupakan bagian penting dalam proses pewarisan pengetahuan tari tradisi yang tidak seluruhnya dapat ditemukan dalam buku.
Pengetahuan tersebut hadir melalui pengalaman, tubuh, napas, kepekaan, serta cara seorang pelaku seni memahami sebuah gerakan.
Karena itu, model kolaborasi antara kampus dan sanggar tidak akan berjalan maksimal tanpa kehadiran para pelatih yang bersedia turun langsung ke lantai latihan dan mendampingi mahasiswa.
Mahasiswa sebagai Subjek Pelestarian
Lalu, untuk siapa semua proses ini dilakukan?
Jawabannya adalah mahasiswa Sendratasik.
Mahasiswa tidak ditempatkan hanya sebagai objek pembelajaran, tetapi sebagai subjek yang nantinya akan menjadi generasi penerus seni tradisi.
Di tangan mereka, Tari Bosara dapat dibawa ke berbagai ruang: sekolah, kegiatan masyarakat, acara adat dan pernikahan, festival seni tingkat nasional, bahkan hingga panggung internasional.
Hal menarik terlihat dari perubahan sikap mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Mereka yang sebelumnya menganggap tari tradisi sebagai sesuatu yang kuno atau “tari kampung”, perlahan mulai tumbuh rasa bangga.
Mereka mulai bertanya tentang berbagai hal, mulai dari jumlah dan jenis kue yang disajikan di atas Bosara hingga makna gerakan sembah dan aturan dalam tari.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi tanda bahwa proses pelestarian mulai bekerja.
Sebab, pelestarian bukan hanya tentang kemampuan menghafal gerakan, tetapi juga tentang tumbuhnya kesadaran dan rasa memiliki terhadap budaya sendiri.
Tantangan Pelestarian
Tentu, model kolaborasi ini tidak selalu berjalan mulus.
Ada persoalan jadwal yang terkadang berbenturan antara kegiatan perkuliahan dan latihan sanggar. Ada pula kebutuhan pembiayaan untuk kostum, properti, serta kebutuhan pertunjukan.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah stigma terhadap seni tradisi di tengah popularitas budaya modern, termasuk K-Pop dan berbagai budaya populer lainnya.
Namun, justru dalam kondisi seperti inilah kolaborasi menjadi penting.
Kampus dapat memberikan dukungan melalui pembelajaran, program pengabdian, penelitian, dan peluang hibah. Sanggar menyediakan ruang latihan, pengalaman, serta pelatih yang memahami seni tradisi secara langsung.
Dosen dapat melakukan penelitian dan publikasi, sementara mahasiswa menjadi pelaku sekaligus generasi penerus.
Jika semua unsur tersebut berjalan bersama, tantangan pelestarian budaya menjadi lebih ringan.
Dari Bosara Menuju Tradisi Lain
Model “Dari Sanggar ke Kampus” ke depan diharapkan tidak berhenti pada Tari Bosara.
Model serupa dapat dikembangkan untuk memperkenalkan dan melestarikan berbagai seni tradisi Sulawesi Selatan lainnya, seperti Tari Pakarena, Tari Pajaga, serta berbagai bentuk tradisi lisan yang mulai menghadapi tantangan zaman.
Kuncinya adalah satu: jangan memisahkan akademisi dari pelaku tradisi.
Pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah atau dinas yang membidangi kebudayaan. Bukan pula hanya tanggung jawab sanggar seni.
Pelestarian merupakan kerja bersama.
Hari ini, kita patut bersyukur masih memiliki sosok seperti Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd. yang membuka ruang sanggarnya untuk proses pewarisan budaya, serta Ibu Bau Salawati, S.Pd., M.Sn. yang dengan ketulusan terus mendampingi mahasiswa dalam mempelajari gerak dan nilai Tari Bosara.
Di sisi akademik, terdapat Prof. Dr. Jamilah, M.Sn., Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Sri Darmawati, M.Pd. yang berupaya menjembatani tradisi dengan dunia pendidikan tinggi.
Jika model kolaborasi ini terus dijaga dan dikembangkan, bukan tidak mungkin sepuluh tahun mendatang, ketika tamu datang ke Makassar, yang menyambut mereka bukan hanya ucapan “selamat datang”, tetapi juga ayunan tangan yang anggun, langkah yang lembut, serta Bosara yang diangkat dengan penuh penghormatan oleh generasi muda.
Sebab, pada akhirnya, melestarikan Tari Bosara bukan sekadar mempertahankan sebuah tarian.
Melestarikan Bosara berarti menjaga cara kita menghormati orang lain, merawat kebersamaan, dan mempertahankan jati diri budaya.
Dan semua itu dapat dimulai dari ruang latihan sanggar, kemudian tumbuh dan berkembang di kampus.
Tim Jurnalis














