MAROS,liputan47.com – Kondisi SPBU Nelayan (SPBN) Nomor 78.905.03 yang dikelola Koperasi Tani Tambak Mario Nusantara menjadi sorotan setelah ditemukan dugaan lemahnya pengawasan terhadap operasional fasilitas yang diperuntukkan bagi nelayan.
Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi, awak media mendapati kondisi SPBN terlihat kurang terawat. Sejumlah bagian bangunan dan fasilitas tampak tidak terpelihara dengan baik sehingga memunculkan pertanyaan terkait pengelolaan dan pengawasan terhadap aset yang melayani kebutuhan bahan bakar bagi nelayan.
Operator SPBN yang mengaku bernama Idris mengatakan pasokan solar untuk SPBN tersebut hanya datang satu kali dalam sebulan. Kondisi itu dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan BBM bagi nelayan yang bergantung pada solar bersubsidi untuk aktivitas melaut.
Selain kondisi fisik, awak media juga menemukan informasi pada tanda tera alat ukur BBM yang menunjukkan masa berlaku telah berakhir pada 10 Juli 2025. Tera merupakan proses pengujian dan pengesahan alat ukur guna memastikan volume BBM yang disalurkan sesuai dengan ketentuan. Apabila belum diperpanjang, kondisi tersebut berpotensi menjadi perhatian instansi berwenang karena berkaitan dengan kepastian takaran dan perlindungan konsumen.
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan terhadap operasional SPBN yang dibangun untuk mendukung aktivitas nelayan. Masyarakat berharap pemerintah daerah, instansi metrologi, serta pihak terkait segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan seluruh aspek operasional telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Selain itu, masyarakat juga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan SPBN, mulai dari kondisi fasilitas, kelancaran distribusi solar, hingga status legalitas tera alat ukur. Pengawasan yang optimal dinilai penting agar pelayanan kepada nelayan tetap berjalan dengan baik dan sesuai standar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola Koperasi Tani Tambak Mario Nusantara maupun instansi terkait mengenai status tera alat ukur yang diduga telah habis masa berlakunya, serta mekanisme distribusi solar yang menurut keterangan operator hanya dilakukan satu kali dalam sebulan.
Tim Jurnalis














